Research Project- Sosialisasi Lewat Volunteering (Ardya Sena Maulydina Azhari X-IPS)



SOSIALISASI LEWAT VOLUNTEERING

            Sukarelawan atau biasa disebut juga dengan Volunteering adalah kegiatan sosial yang dilakukan oleh relawan atau volunteer dengan tujuan untuk membantu orang-orang yang sedang mengalami musibah dan kesulitan dengan niat dalam hati dan dana yang dikeluarkan oleh para relawan itu sendiri yang termasuk perilaku mulia. Imbalan dari kegiatan ini bukanlah uang melainkan menghasilkan perasaan bahagia, senang, harga diri dan hormat akan sesama. Kegiatan ini sangat berguna untuk pengembangan sosialisasi terhadap masyarakat, keterampilan akan pekerjaan, kepedulian akan sesama, dan menimbulkan rasa simpati serta empati yang lebih dalam. Untuk menjadi seorang relawan tidak harus bekerja di bidang kedokteran dan penyelamatan dadurat saja melainkan orang biasa pun dapat menjadi relawan juga asalkan apa yang kita lakukan itu ikhlas serta tulus dari dalam.          

            Kata kerja relawan pertama kali tercatat pada tahun 1755 dari kata benda di C 0,1600 Yang artinya “orang yang menawarkan dirinya untuk tugas militer.” oleh M. Fr. Voluntaire. tetapi dalam arti non-militer, kata relawan juga dapat diartikan dengan “layanan masyarakat”. Tentara-tentara yang dahulu bertugas sebagai relawan tidak bekerja secara gratis namun mereka diberi gaji rutin setiap bulannya. Sebelum abad ke-19, beberapa organisasi amal resmi ada untuk membantu orang yang membutuhkan. Selama ini, Amerika mengalami kebangkitan besar. Orang-orang menjadi sadar akan dirugikan dan menydari penyebab gerakan melawan perbudakan. Orang-orang muda mulai membantu orang miskin di komunitas mereka. Pada tahun 1851, untuk pertama kalinya YMCA didirikan di Amerika Serikat dan setelah tujuh tahun lamanya berdirilah YWCA sebagai oraganisasi relawan. Selama perang sipil, para wanita merelakan waktu mereka untuk menjahit pasokan untuk tentara. Salvation Army adalah salah satu organisasi tertua dan terbesar bekerja untuk orang yang kurang beruntung. Meskipun itu adalah organisasi amal, Salvation Army telah melaksanakan kegiatan sukarelawan sejak awal berdiri.
            Kegiatan sukarelawan atau volunteering semakin meraja rela sejak adanya Perang Dunia II pada abad ke-20. Disini seperti yang telah kita ketahui dan telah kita pelajari, telah banyak ratusan juta korban yang kehilangan nyawa, keluarga, rumah serta harta benda mereka dalam berlangsungnya Perang Dunia II ini. Selama Perang Dunia II, ribuan kantor relawan mengawasi relawan yang membantu dengan kebutuhan banyak yang dibutuhkan oleh militer, termasuk pasokan untuk mengumpulkan makanan dan obat-obatan, menghibur tentara yang cuti akibat menjadi korban dari peperangan serta merawat tentara-tentara dan juga masyarakat yang terluka. Setelah Perang Dunia II, orang-orang mengalihkan nafsu altrustik mereka ke daerah lain termasuk membantu orang miskin dan relawan luar negeri. Perkembangan sukarelawan menjadi pesat ketika adanya Korps Perdamaian pada tahun 1960 ketika Presiden Lyndon B. Jonhson mengumumkan “Perang Melawan Kemiskinan” pada tahun 1964. Ketika masa ini peluang relawan sangat besar dan menjadi luas serta berlanjut sampai beberapa dekade mendatang. Proses untuk menemukan pekerjaan sukarela menjadi lebih formal dengan pusat-pusat relawan lebih yang membentuk dan membuat cara-cara baru untuk menemukan pekerjaan. Perkerjaan sukarelawan pun lebih mudah ketika muncul World Wide Web atau biasa disebut dengan internet. Dengan ini untuk mencari pekerja sukarelawan pun menjadi lebih mudah, cepat serta praktis.
            Kesukarelawan di negara berkembang mengacu pada relawan di komunitas miskin di Negara berkembang. Sebagian besar relawan dari negara-negara maju memilih dunia ketiga atau disebuat juga dengan negara netral dan non-aliansi sebagai tujuan mereka sukarela dan menghabiskan waktu mereka bekerja di sekolah-sekolah miskin sebagai sumber daya mengajar dan ada juhga yang bekerja di panti asuhan serta sebagainya. Saat ini, sukarelawan juga telah disebut sebagai “Internasional Pelayanan Masyarakat”. Seorang relawan akan mampu berjanji terhadap waktu mereka untuk bekerja dalam komunitas internasional untuk berbagai kegiatan pembangunan. Kemudian ada juga keterampilan berbasis relawan yang memanfaatkan keterampilan khusus dan bakat individu untuk memperkuat infrastruktur organisasi nirlaba, membantu mereka membangun dan mempertahankan kemampuan mereka untuk berhasil mencapai misi mereka. Hal ini berbeda dengan tradisional relawan dimana pelatihan khusus tidak diperlukan.
            Lingkungan sukarela mengacu pada sukarelawan yang berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan atau konservasi. Relawan melakukan berbagai kegiatan termasuk pemantauan lingkungan, restorasi ekologi seperti re-vegetasi dan penghapusan gulma, melindungi hewan langka, dan mendidik orang lain tentang lingkungan alam. Giant Panda Conservation Program di Xi’an dan Sichuan, China merupakan program perlindungan terkenal bagi hewan yang terancam punah. Sichuan Giant Panda Sanctuaries Conservation Program  menarik dukungan besar dari luar negeri serta para relawan. Virtual Volunteer juga disebut e-volunteering atau sukarelawan online. Virtual Volunteering adalah istilah yang menggambarkan seorang relawan yang menyeselaikan tugas-tugas secara keseluruhan atau sebagian diluar dari organisasi yang dibantu. Mereka menggunakan internet dan rumah, sekolah, telecenter atau computer kerja atau lainnya yang tersambung ke perangkat internet seperti PDA atau smartphone. Virtual Volunteering juga dikenal sebagai layanan cyber, telementoring dan teletutoring dan lain-lainnya. Virtual Volunteering mirip dengan telecommuting, kecuali bahwa alih-alih karyawan online yang dibayar adalah relawan online yang tidak dibayar. Micro-Volunteering adalah tugas yang belum dibayar yang dioperasikan melalui perangkat yang terhubung internet dan diselesaikan dalam waktu sedikit demi sedikit. Hal ini berbeda dari Virtual Volunteering yang biasanya tidak memerlukan proses aplikasi atau periode aplikasi atau periode pelatihan.
            Sukarela sering memainkan peran penting dalam upaya pemulihan setelah bencana alam seperti tsunami, banjir, kekeringan dan gempa bumi. Sebagai contoh adalah gempa dan tsunami di Samudera Hindia pada tahun 2004 yang bertepatan di Aceh menarik sejumlah besar sukarelawan di seluruh dunia yang dikerahkan oleh organisasi non-pemerintah, lembaga pemerintah dan PBB. Komunitas sukarelawan mengacu pada relawan yang bekerja untuk meningkatan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat di daerah dimana mereka tinggal. Lingkungan, gereja dan kelompok masyarakat memainkan peran kunci dalam membangun kota yang kuat dari lingkungan atas. Mendukung kelompok-kelompok kekurangan dapat memungkinkan mereka untuk berhasil dalam berbagai bidang yang menghubungkan sosial, batas-batas lingkungan dan ekonomi. Relawan dapat melakukan berbagai kegiatan, beberapa memilih untuk mendukung berbagai kelompok sebagai “volunteer broker”.
            Sekolah adalah dimana seorang anak akan mengalami proses sosialisasi tahap kedua mereka setelah tahap pertama yaitu lingkungan keluarga. Sekolah adalah dimana seorang anak akan mulai bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda selain anggota keluarganya. Disinilah kepribadian seorang anak akan mengalami masa labil dan tahap belajar mereka pun mulai berkembang. Sekolah juga termasuk sarana sosialisasi masyarakat yang tepat untuk anak-anak. Sumber daya sekolah miskin di seluruh dunia bergantung pada dukungan pemerintah atau pada upaya dari relawan dan sumbangan pribadi agar dapat berjalan efektif. Di beberapa negara, setiapa kali ekonomi sedang menurun, kebutuhan untuk relawan dan sumber daya akan sangat meningkat. Ada banyak kesempatan yang tersedia dalam sistem sekolah untuk relawan mengambil keuntungan. Mereka dapat menambahkan permulaan mereka lagi dan mempelajari budaya dan bahasa asing. Tidak ada banyak persyaratan untuk menjadi relawan dalam sistem sekolah. Apakah seseorang itu adalah murid SMA atau lulusan TEFL ( Teaching English as a Foreign Language) atau mahasiswa, yang paling dibutuhkan sekolah adalah hanya sukarela dan usaha tanpa pamrih. Sama seperti manfaat dari setiap jenis relawan ada imbalan besar untuk sukarelawan, siswa dan sekolah. Relawan di sekolah dapat menjadi panduan pengajaran tambahan untuk siswa dan membantu untul mengisis kesenjangan guru lokal. Pertukaran budaya dan bahasa selama mengajar serta kegiatan sekolah lainnya dapat menjadi pengalaman belajar yang paling penting bagi siswa dan relawan. Contoh saja AFS (American Field Service). AFS dahulu bermula dari rumah sakit sukarelawan yang berdiri pada saat Perang Dunia II. Setelah  itu AFS mulai berkembang menjadi program pertukaran pemuda internasional dimana terjadilah pertukaran pelajar dari berbagai macam negara dan siswa-siswa akan bertemu, mempelajari dan beradaptasi dengan budaya dan bahasa asing. Ini adalah salah satu program volunteer yang bagus dimana siswa-siswa yang mengikuti pertukaran pelajar ini akan tinggal bersama orang tua angkat mereka yang juga termasuk sukarelawan.
            Selain sekolah, perusahaan termasuk bagian dari sarana sukarelawan. Mayoritas perusahaan di Fortune 500 memungkinkan karyawan mereka untuk menjadi sukarelawan selama jam kerja. Ini diresmikan oleh Employee Volunteering Programs (EVPs) atau Program Karyawan Sukarela juga disebut Employer Supported Volunteering atau karyawan mendukung kesukarelawan, dianggap sebagai bagian dari upaya keberlanjutan perusahaan dan kegiatan tanggung jawab sosial mereka. Sekitar 40% dari perusahaan Fortune 500 memberikan sumbangan moneter, juga dikenal sebagai relawan hibah untuk organisasi nirlaba sebagaiu cara untuk mengenali karyawan mereka yang mendedikasikan sejumlah besar waktu untuk relawan di masyarakat. Menurut informasi dari VolunteerMatch, layanan yang menyediakan solusi Employee Volunteering Programs, pendorong utama bagi perusahaan yang memproduksi dan mengelola EVPs sedang membangun kesadaran baru dan afinitas, memperkuat kepercayaan dan loyalitas para konsumen, meningkatkan citra perusahaan dan reputasi, meningkatkan retensi karyawan, meningkatkan produktivitas karyawan dan loyalitas dan menyediakan sebuah kendaran yang efektif untuk mencapai tujuan strategis.
            An International Workcamp adalah sebuha proyek sukarela internasional dimana peserta dari berbagai negara dapat memenuhi hidup, bekerja, belajar dan  pertukaran dengan masyarakat lokal mengenai isu-isu tentang konservasi lingkungan, warisan budaya, keadilan sosial, pembangunan pedesaan dan manusia. CCIVS, Group Work Foundation, Service Civil International (SCI) adalah beberapa memasok untuk International Workcamps. Hal ini dapat dibagi menjadi proyek sukarela jangka pendek atau Shot Term Voluntary Projects (STV) dan proyek sukarela jangka panjang / menengah atau Long / Middle Term Voluntary Projects (LMTVP). Proyek STV adalah International Workcamps untuk kurang dari 2 bulan, sedangkan proyek LMTVP berlangsung selama 2 bulan atau lebih. International Workcamps yang paling umum berlangsung selama 2 minggu dengan sekelompok 10-20 peserta wokcamp asing dan lokal.
            Masyarakat modern berbagi nilai yang sama dari masyarakat yang saling membantu satu sama lain.  Tidak hanya tindakan sukarela untuk membantu orang lain, tetapi mereka juga menguntungkan relawan individu pada tingkat pribadi. Meskipun memiliki tujuan yang sama, ketegangan dapat timbul antara relawan dan negara yang menyediakan pelayanan. Dalam rangka untuk mengurangi ketegangan ini, sebagian besar negara mengembangkan kebijakan dan memberlakukan undang-undang untuk memperjelas peran dan hubungan antara para pemangku kepentingan pemerintah dan rekan-rekan sukarela mereka. Peraturan ini mengindentifikasikan dan mengalokasikan dukungan hokum, sosial, administrasi, dan keuangan yang diperlukan dari masing-masing pihak. Hal ini sangat diperlukan ketika beberapa kegiatan sukarela dipandang sebagai tantangan bagi otoritas negara, misalnya pada tanggal 29 Januari 2001, Presiden Blush memperingatkan bahwa kelompok-kelompok relawan harus melengkapi (tidak mengganti) lembaga kerja pemerintah.
            Tsunami yang selalu menerjang dan menimpa Jepang dan sekitarnya membuat para relawan bergerak atas apa yang telah terjadi di Jepang. Walaupun Jepang terkenal akan teknologi yang paling canggih nomor satu di dunia, tidak disangka dan dipungkuri bahwa negara maju atas teknologinya itu juga dapat terhayut oleh air laut. Kesukarelawan sangatlah dibutuhkan untuk para korban. Banyak sekali masyareakat yang ditempa musibah kehilangan keluarga, rumah, harta benda, sekolah, orang-orang terdekat dan masih banyak lagi dan para relawan itulah yang akan selalu bersedia untuk selalu membantu, memberikan apa yang mereka punya, apa yang mereka miliki untuk mencakupi kebutuhan para korban tsunami itu. Para relawan akan membangun tenda dan akan menyediakan makanan hangat untuk para korban. Menyediakan selimut, matras serta bantal untuk mereka tidur di malam hari. Menyediakan keperluan sandang mereka seperti baju, sepatu dan lain sebagai. Serta mereka pun akan menyediakan obat-obatan dan dokter relawan dengan segenap kemampuan yang dimiliki para dokter relawan untuk menyembuhkan para korban agar bias melihat dunia yang indah ini. Atas bantuan para relawan pun, para korban juga mempunyai rumah, ada rumah yang seperti van atau mobil tetapi bagi para korban itu sudahlah lebih dari cukup dari apa yang telah hilang dari mereka. Jeritan tangis dan air mata dari anak kecil yang kehilangan keluarganya yang sekarang menjadi yatim piatu, seorang ibu yang kehilangan bayinya yang tenggelam karena ombak langsung di depan matanya, seorang ayah yang harus kehilangan sebagian dari anggota tubuhnya hanya untuk menyelamatkan keluarga tercintanya, seorang nenek yang tinggal sendirian bersama cucu perempuannya membuat para relawan merasa ikut bersedih akan apa yang telah hilang dari para korban. Para relawan juga membantu anak-anak yang masih bersekolah untuk dapat bersekolah lagi dengan membawa buku-buku dari hasil sumbangan masyarakat dari seluruh dunia yang berharap mereka juga dapat bersekolah lagi dan lulus dengan nilai yang bagus dan senyum bahagia seperti anak-anak normal lainnya. Mereka sebisa mungkin akan melakukan apapun dan apa saja tanpa pamrih serta tanpa bayaran hanya untuk dapat melihat para sesamanya hidup tenang, bahagia, selamat, aman, sejahtera dan sehat.

Comments

Popular posts from this blog

Pascal

ARDYA SENA MAULYDINA AZHARI_X-IPS_CARA MEMBENTUK SISWA YANG BERKERITERIA TINGGI YANG DIINGINKAN SEKOLAH

Ardya Sena Maulydina Azhari XI IPS_Artikel_Riuk Piuk Lebaran