DAMPAK PENGGUNAAN BAHASA SEBAGAI ALAT PEMERSATU SISWA SMAN 10 SAMARINDA
DAMPAK
PENGGUNAAN BAHASA SEBAGAI ALAT PEMERSATU SISWA SMAN 10 SAMARINDA
Sebagai yang kita tahu, manusia adalah
makhluk social dimana seorang individual tidak bias hidup tanpa adanya bantuan
dari individu lainnya. Hal ini membuat manusia harus menjadi makhluk yang dapat
bersosialisasi terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya. Untuk melakukan suatu
sosialisasi dibutuhkan beberapa factor dan yang paling utama dalam
bersosialisasi adalah komunikasi. Komunikasi adalah suatu proses dimana
seseorang atau beberapa kelompok, oraganisasi dan masyarakat menciptatakan
menyampaikan informasi seperti pesan, ide, gagasan agar terhubung dengan
lingkungan dan orang lain. Hal ini sangatlah berpengaruh sekali terhadap
kegiatan sosialisasi agar dapat berlangsung dan terlaksana. Terdapat banyak
sekali cara untuk melakukan komunikasi, contohnya saja yang sedang ngetren di
kalangan remaja yaitu disebut “kode” dimana pengirim mengirimkan kode agar
penerima dapat langsung mengerti dengan kode yang pengirim berikan kepada penerima.
Biasanya jika kode terlalu frontal maka akan disebut dengan “kodmax” atau kode
maksimal. Dimana kode yang diberikan itu sudah sesuatu yang sangat jelas dan
pasti penerima akan sangat mengerti dengan kode itu. Akan tetapa cara lain
adalah dengan simbol-simbol seperti yang digunakan pada masa Yunani, dimana
masyarakat pada jaman itu mengukir-ukir symbol-simbol di dinding-dinding
bangunan. Biasanya simbol-simbol ini menunjukkan dan menceritakan kisah dari
kehidupan kerajaan di masa kerajaan itu berjaya. Ini juga termasuk dalam salah
satu peninggalan dari masa lalu, akan tetapi dikarenakan sudah lama berdirinya
bangunan-bangunan itu maka hanya sedikit dari banyaknya simbol-simbol yang
ditemukan oleh peneliti-peniliti. Selain contoh-contoh cara untuk melakukan
komunikasi yang telah disebutkan, ada salah satu cara yang paling utama dan
sangat penting untuk melakukan suatu komunikasi dan cara ini adalah cara yang
efektif untuk berlangsungnya suatu komunikasi yaitu adalah bahasa.
Bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk
memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang
kompleks, dan sebuah bahasa
adalah contoh spesifik dari sistem tersebut. Bahasa manusia adalah unik di
antara makhluk hidup di bumi karena strukturnya yang kompleks mampu memberikan
kemungkinan ekspresi dan penggunan yang lebih luas daripada sistem komunikasi hewan
yang diketahui, yang semuanya secara umum adalah sistem tertutup, dengan
fungsi-fungsi yang terbatas dan kebanyakan diturunkan secara genetis daripada
berpindah secara sosial. Setiap negara memiliki masing-masing bahasa yang
digunakan oleh penduduk negara tersebut. Bahasa yang digunakan ada yang
terdengar unik, rumit dan mudah untuk dihapal. Bahasa juga termasuk salah satu
komunikasi yang digunakan untuk bekerja sama. Maka dari itu bahasa sangatlah
penting untuk kehidupan manusia. Dimana bahasa digunakan sebagai alat untuk
terlaksananya sosialisasi dengan cara mudah dan sebagai kerja sama dengan
manusia lainnya.
Berbicara tentang
bahasa, di dunia ada ribuan bahasa yang telah lahir dan digunakan oleh manusia
untuk melakukan interaksi timbal balik dan memenuhi kebutuhan satu sama lain.
Tahukah kamu selain sebagai alat komunikasi dan interaksi timbale balik serta
untuk memenuhi kebutuhan, bahasa juga digunakan sebagal alat pemersatu antar
manusia dengan manusia lain. Mengapa disebut alat pemersatu? Disebut dengan
demikian karena dengan adanya bahasa maka akan terbentuklah suatu hubungan
dimana hubungan itu akan sangat erat karena bahasa juga mengandung emosi dan perasaan
yang dapat membuat bahasa menjadi alat pemersatu. Sebagai alat pemersatu inilah
manusia dapat menjadi kompak dan dapat bekerja sama satu dengan lainnya karena
adanya bahasa. Akan tetapi sebagai sesuatu yang penting, bahasa dapat menjadi
alat peruntuhan pemersatuan yang dikarenakan modifikasi bahasa menjadi lebih
modern dan gaul. Ini menyebabkan mutu bahasa menjadi menurun, apalagi jika hal
ini terjadi di negara-negara yang masih berkembang.
Contohnya saja negara
kita, bisa kita lihat sekarang penggunaan bahasa dengan baik dan benar sudah
sangatlah tidak diperhatikan lagi. Hal ini dapat mengakibatkan kriteria bangsa
kita dianggap jelek oleh negara-negara yang lebih maju dari negara kita.
Contohnya saja dengan negara Jepang. Di Jepang, penggunaan bahasa dibagi
menjadi dua tingkatan yaitu formal dan informal. Selain formal dan informal,
terdapat juga pembagian bahasa khusu perempuan (joseigo) dan bahasa khusus
laki-laki (danseigo). Dengan adanya pembagian ini, maka kualitas, cirri khas
dan keaslian dari bahasa itu sendiri akan tetap terjaga dengan baik. Banyak
sekali orang-orang dari luar negeri yang ingin mempelajari bahasa kita malah
mendapatkan kendala yang diakibatkan oleh bahasa modern atau bahasa gaul yang
telah di modifikasi oleh remaja-remaja negara kita. Ini membuat orang-orang
dari luar negeri yang ingin belajar bahasa kita mengalami kesulitan dikarenakan
juga kita sebagai masyarakat juga jarang maka mungkin tidak lagi menerapkan
tingkatan bahasa seperti yang dipakai negara Jepang, yaitu bahasa formal dan
informal. Banyak remaja-remaja Indonesia berkata bahwa bahasa formal sangatlah
baku dan kata-kata yang diucapkan terlalu banyak maka dari itu lahirlah bahasa
modern atau bahasa gaul yang sekarang masih meraja rela di negara kita ini.
Jika ini terus dilakukan maka persatuan bangsa kita akan runtuh serta bahasa
sebagai alat pemersatuan akan menjadi omong kosong belaka yang malah bahasa
menjadi hal kebalikan dari alat pemersatuan itu tadi.
Kita tahu bahwa
sangatlah susah untuk mengubah suatu kebiasaan yang telah dilakukan berulang
kali bahwa kebiasaan itu dilakukan setiap saat. Apalagi kebiasaan ini
menyangkut soal bahasa. Tanpa bahasa kita tidak bisa berkomunikasi dengan satu
sama lain, oleh karena itu kita perlu menjaga fungsi dari bahasa itu sendiri.
Oleh karena itu, kita juga harus menjaga keaslian bahasa itu juga.
Remaja-remaja sekarang menggunakan bahasa yang tidak baku atau informal bahkan
terhadap orang yang lebih tua dan orang-orang yang baru saja mereka temui.
Jarang kita temukan dan jumpai remaja-remaja atau bahkan orang-orang yang mau
memakai bahasa formal bahasa Indonesia kita ini. Indonesia memiliki banyak
bahasa daerah dimana banyaknya bahasa daerah ini terbentuklah bahasa Indonesia
sebagai bahasa pemersatu antara daerah-daerah yang ada di Indonesia.
Bahasa Indonesia
menjadi bahasa umum yang dipakai di negara kita yang membuat orang-orang yang
sudah dari lahir memakai bahasa daerahnya sendiri mau atau tidak mau harus juga
mempelajari serta menguasai bahasa Indonesia. Karena logat dari bahasa daerah
dari masing-masing daerah berbeda, terkadang orang-orang yang masih kental
dengan bahasa daerahnya ketika berbicara dalam bahasa Indonesia akan masih
tetap memakai logat bahasa daerah mereka yang membuat keaslian bahasa Indonesia
itu sendiri menjadi pudar. Bisakah kita membuat diri kita sendiri serta
orang-orang yang lainnya memakai bahasa Indonesia dengan baku dan dengan ejaan
yang baik dan benar? Hal itu pasti dipertanyakan seiring dengan berjalannya era
globalisasi yang masih berlangsung sampai saat ini juga. Kita tak bisa mengelak
dari era globalisasi, bahwa bagaimanapun semua yang ada di muka bumi ini saling
berkaitan dan karena saling berkaitan itulah maka saling berpengaruh satu sama
lain juga. Biasanya bahasa Indonesia yang tidak baku diciptakan karena adanya
serapan kata-kata dari bahasa lain, seperti yang paling banyak adalah bahasa
Inggris. Tetapi ada juga seperti bahasa lain seperti bahasa latin yang juga
diserap menjadi kata-kata yang akhirnya dipakai menjadi bahasa Indonesia. Tentu
kata-kata serapan itu juga ada kata aslinya, kata awalnya atau kata lain dari
kata-kata serapan itu yang disebut juga kata asli dari bahasa Indonesia.
Saya adalah salah satu
pengguna bahasa modern atau bahasa gaul dari bahasa Indonesia. Jujur saya
mengalami kesulitan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan ejaan yang baik
dan benar dan juga dengan bahasa baku atau formal. Menurut saya, bahasa formal
itu seperti bahasa yang sangat sopan jadi seperti harus berhati-hati terhadap
setiap kata-kata yang akan saya lontarkan atau ucapkan kepada orang lain atau
lawan berbicara saya. Saya juga salah satu korban dari pengguna bahasa
Indonesia yang masih menggunakan sedikit logat dari daerah Samarinda. Ini
disebabkan karena saya bersekolah di boarding school dimana saya bertemu dengan
berbagai macam siswa-siswi dari berbagai macam daerah yang memiliki berbagai
macam logat yang ketika mereka berbicara memiliki logat tersendiri. Ketika saya
berbicara kepada teman-teman dari berbagai daerah yang beda ini, saya dapat
membedakan cara ngomong mereka sangatlah beda. Apalagi ketika awal-awal saya
berbicara kepada teman-teman yang dari daerah pelosok, saya agak sedikit tidak
mengerti akan kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya di daerah
saya. Saya dari Balikpapan yang otomatis gaya bahasa saya berbicara itu beda
dengan gaya bicara teman-teman dari Samarinda. Bahkan ada teman-teman yang
mengaku bahwa mereka ada juga yang tidak mengerti dengan kata-kata yang saya
ngomongkan kepada mereka ketika saya berbicara kepada mereka seperti saya yang
juga tidak mengerti dengan kata-kata yang belum saya pernah dengar sebelumnya
dari mereka. Dengan beriringnya waktu, ketika saya tidak mengerti akan apa yang
mereka katakana saya sudah ada keberanian untuk menayakan apa yang dimaksud
dengan kata-kata yang mereka bicarakan. Saya juga belajar bagaimana mereka
berbicara dengan logat-logat mereka yang masih melekat ketika mereka berbicara
bahasa Indonesia. Dan juga saya juga suka mengamati gaya mulut mereka ketika
berbicara serta memperhatikan intonatasi nada dari kata-kata yang ucapkan. Hal
itu sangatlah menyenangkan untuk dilakukan apalagi jika kita bisa sambil
belajar dari hal yang kita amati.
Akan tetapi karena saya
tinggal di asrama bersama dengan teman-teman yang berasal dari daerah-daerah
lain membuat saya terpengaruh oleh gaya berbicara mereka. Awal-awal saya
memulai kehidupan saya disana, saya menggunakan logat anak Samarinda, dimana
saya banyak menggunakan kata “sih” dan entah kapan saya menyadari bahwa ini
bukan gaya saya berbicara. Selama di Balikpapan saya jarang berbicara “sih”
melainkan “kok”. Saya berusaha untuk menghapus kata sih itu dari setiap kalimat
yang saya ucapkan ketika saya berbicara. Tetapi itu sangatlah susah, butuh waktu
yang lama atau mungkin kata itu akan menghilang ketika saya sudah lulus dari
sekolah tapi saya pikir itu akan terlalu lama. Maka saya berusaha sebisa
mungkin untuk mengontrol perkataan saya. Alhasil sekarang saya bisa mengontrol
kata sih tadi dalam kalimat-kalimat yang saya ucapkan. Ini juga membuat
beberapa diantara mereka juga terpengaruh oleh adanya logat-logat dari bahasa
daerah yang dibawa oleh beberapa teman yang berasal dari berbagai beda daerah.
Hal yang perlu dipertanyakan sekarang adalah bagaimana cara untuk mengatasi
agar tidak terpengaruh oleh logat-logat daerah agarbahasa Indonesia yang
digunakan baik dan benar?
Salah satu caranya
adalah dengan adanya pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Indonesia ada
agar kita sebagai warga negara Indonesia agar lebih mengerti dan memahami jauh
lebih dalam tentang bahasa kita sendiri, bahasa yang selalu kita pakai setiap
harinya. Tentu di negara lain aka nada pelajaran tentang bahasa mereka sendiri,
ini juga menunjukkan bahwa negara-negara yang memiliki pelajaran bahasa mereka
sendiri di sekolah-sekolah merupakan negara yang cinta akan bahasa mereka
sendiri. Bukankah ini hal yang sangat bagus untuk meningkatkan tingkat
pemersatuan satu sama lain antara warga negara? Tentu saja ini akan sangat
bagus dan sangat berguna. Walaupun kita sebagai warga negara Indonesia sendiri
masih bertanya-tanya mengapa mempelajari dan memahami bahasa sendiri lebih
susah daripada bahasa asing lainnya. Pertanyaan itu pun masih misterius dan
menurut saya belum ada yang bisa menjawabnya. Pelajaran Bahasa Indonesia
tidaklah begitu sulit, hanya ketelitian dan cara kita untuk memahaminya saja
yang perlu ditingkatkan lagi. tetapi itu sangatlah susah untuk siswa-siswi SMAN
10 Samarinda. Mengapa? Karena kita satu angkatan terpaksa harus SP (Semester
Pendek) karena nilai Bahasa Indonesia kita anjlok dan juga harus membuat essay
sebagai remedialnya, contohnya adalah essay saya ini.
Berbicara tentang
bahasa dalam kalangan siswa-siswi SMAN 10 Samarinda, bahasa juga sangat penting
bagi siswa-siswi SMAN 10 Samarinda. Bahasa juga termasuk dalam alat komunikasi
dan alat pemersatu dalam ruang lingkup SMAN 10 Samarinda. Penggunaan bahasa
sebagai alat pemersatu juga sangat berpengaruh besar dalam kehidupan di SMAN 10
Samarinda. Contohnya adalah penggunaan bahasa dapat dikaitkan dengan debat yang
juga termasuk dalam salah satu aktivitas yang ada di sekolah ini. Kemudian juga
ada menulis essay, artikel dan lain sebagainya yang juga dapat meningkatkan
tingkat menulis kita. Lalu apakah dampak dari penggunaan bahasa sebagai alat
pemersatu siswa SMAN 10 Samarinda. Dampaknya adalah dapat terjalinnya tali
persaudaraan antara satu sama lain dikarenakan seperti yang telah saya
terangkan diatas bahwa bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Kermudian dampak
lainnya adalah adanya kerja sama dalam semua aktivitas yang siswa-siswa lakukan
bersama jika ada tugas kelompok. Kemudian lainnya dengan penggunaan bahasa
sebagai alat pemersatu dapat meningkatkan sifat solidaritas, dimana siswa yang
satu dengan siswa yang lainnya dapat menjadi solid seperti halnya angkatan 16,
SOLID. Jika bahasa dapat membuat semua orang yang ada di ruang lingkup menjadi
solid, berarti inilah yang dimaksud dengan bahasa sebagai alat pemersatu.
Tetapi jika bahasa
sebagai alat pemersatu siswa SMAN 10 Samarinda tidak digunakan dengan baik,
misalnya menggunakan bahasa untuk mengolok, mencerca, memaki, mengejek,
menyumpahi, memarahi, berbicara kasar dan hal yang berhubungan dengan negative,
maka dampak yang akan dihasilkan pun akan negative juga. Dampaknya akan
menyebabkan perpecahan persatuan, terjadinya permusuhan, terputusnya tali
persaudaraan diantara siswa-siswa yang dikarenakan penggunakan bahasa yang
tidak sepantasnya digunakan. Jika hal ini terus berlangsung secara
berangsur-angsur maka mungkin SMAN 10 Samarinda akan menjadi sekolah yang jelek
di mata semua orang. Hanya karena adanya sindir-sindiran. Oleh karena itu
marilah kita membuat bahasa menjadi sesuatu yang berguna seperti sebagai alat
pemersatu. Tahukah kau dampak lain dari bahasa sebagai alat pemersatu? Yaitu
terjadinya ruang lingkup yang penuh dengan suasana yang harmonis, karena jika
kita menggunakan bahasa dengan cara positif maka terjadilah suasana yang kita
ingin. Seperti yang telah disebutkan, bahasa memiliki emosi dan perasaan
seperti halnya manusia. Manusia memiliki perasaan dimana jika kita berbicara
dengan menggunakan kata yang bagus dan indah maka kita akan dibuat nyaman oleh
itu, sedangkan kejadian sebaliknya akan terjadi jika kita menggunakan bahasa
secara tidak semestinya. Selain itu dampak lainnya adalah meningkatkan prestasi
siswa-siswa. Meningkatkan prestasi siswa-siswa dengan cara adanya pelajaran
Bahasa Indonesia, kemudian juga adanya English Debat dan juga adanya pelajaran
bahasa-bahasa asing lainnya seperti Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa
Perancis dan juga yang akan diadakan adalah Bahasa Arab. Kemudian dampak
lainnya sebagai pemersatu adalah dapat membuat kita lebih memahami makna dari
sebuah kata. Ada pepatah mengatakan bahwa segala yang kita ucapkan adalah do’a,
maka dari itu berhati-hatilah ketika kita berbicara. Mungkin saja kata pepatah
itu benar, yang pasti kita tidak tau apakah itu benar atau tidak yang perlu
kita lakukan adalah menjaga ucapan kita agar kata-kata yang kita ucapkan tidak
menyinggung perasaan orang yang sedang kita ajak ngomong.
Dampak yang dihasilkan
oleh bahasa sebagai alat pemersatu sangatlah banyak, bahkan di Sumpah Pemuda
pun bahasa disebutkan dalam kalimat terakhir yaitu “Menjunjung tinggi bahasa
persatuan, Bahasa Indonesi”. Bukankah itu sudah cukup jelas bahkan bukan saja
sebagai alat pemersatu di ruang lingkup siswa SMAN 10 saja tetapi di kalangan
seluruh di negara ini bahwa bahasa sangatlah berpengaruh besar sebagai alat
pemersatu. Kita juga harus turut patut dalam menjunjung tinggi bahasa persatuan
kita agar tidak adanya lagi perpecahan. Maka dari itulah Bahasa Indonesia
dipilih sebagai bahasa umum negara kita. Selain itu dampak lainnya sebagai alat
pemersatu bagi siswa SMAN 10 Samarinda adalah membuat kita melakukan hal yang
positif, karena bahasa diciptakan untuk berkomunikasi dan komunikasi adalah hal
yang positif bukan? Walaupun kita dapat memakai simbol-simbol, logo-logo,
kode-kode atau apa pun itu namanya, lebih praktis dan efektif jika kita memakai
bahasa. Karena dengan memakai bahasa kita dapat menyampaikan apa yang kita
pikirkan, gagasan-gagasan, ide-ide serta pendapat dan lain sebagainya. Selain
itu dampak lainnya adalah bahasa dapat meningkatkan tingkat kreatifitas kita
untuk dapat meningkatkan ilmu pengetahuan kita dan jika tingkat kreatifitas
kita meningkat maka otak kita akan ter-update dan juga akan berkembang, dimana
juga sel-sel otak kita bukannya mati tapi malah tambah bereproduksi. Ini
disebabkan karena tiap-tiap bahasa-bahasa yang ada di seluruh dunia berbeda-beda,
dengan cara pengucapan yang mudah, rumit bahkan mungkin susah untuk dipratekan.
Inilah yang membuat otak dapat merangsang dan menghasilkan kreatifitas. Ini
disebabkan karena otak lebih suka hal-hal yang ganjil, hal-hal yang tidak masuk
akal apalagi otak juga suka terhadap hal-hal yang menurut kita itu adalah hal
yang kita sukai. Karena itulah bahasa adalah salah satu cara yang ampuh untuk
meningkatkan kreatiftas dan juga mungkin imajinasi kita. Dampak lainnya juga
bahasa dapat membuat siswa-siswa yang berada di kelas IPS mendapatkan pelajaran
yang lebih menantang dengan adanya bahasa-bahasa asing dari berbagai
negara-negara yang berbeda-beda. Itu dapat membuat pikiran mereka menjadi
berkembang dan meluas. Jadi kesimpulan diatas, dampak yang diciptakan dari
bahasa sebagai lat pemersatu siswa SMAN 10 Samarinda tidaklah buruk asalkan
kita menggunakan bahasa sebagai mana harusnya dan menjaga ucapan kita agar
tidak menyinggung perasaan orang lain.
Comments
Post a Comment